Aslam – Budak Sahaya yang Bahagia

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pada tahun ketujuh hijriah terjadi perang Khaibar. Kota Khaibar terletak sekitar 150 km di arah selatan kota Madinah. Di kota Khaibar ini terdapat beberapa benteng pertahanan orang-orang Yahudi.
Salah satu benteng ini bernama Na’ima. Tatkala kaum muslimin memblokade benteng ini, seorang budak Habasy bernama Aslam menyatakan masuk Islam.
Bagaimana kisah ia masuk Islam? Marilah kita baca kisah Islamnya yang menarik.

Aslam adalah budak dari seorang Yahudi bernama Amir. Dia bertugas menggembala kambing.
Suatu hari, Aslam melihat penduduk Khaibar bersiap-siap untuk berperang dan ia pun bertanya kepada mereka, “Kalian bersiap-siap untuk berperang dengan siapa?”
mereka berkata, “Kita akan berperang dengan orang yang mengaku sebagai Nabi. Aslam mengingat jawaban ini dalam pikirannya. Dengan akalnya yang bersih, ia mencari kebenaran dan mulai berfikir, “Mengapa aku tidak menemui orang yang mengaku sebagai Nabi ini?”

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di wilayah Khaibair, Aslam pun datang.
Budak Habasy itu datang ke kemah militer beliau sambil membawa sejumlah kambing. Ia meminta izin untuk bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang berakhlak mulia dan sangat rendah hati. Beliau mengizinkan budak Habasy ini padahal beliau tidak pernah mengenalnya. Dalam pertemuan ini, budak ini bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa yang engkau katakan, kepada ajaran apa engkau berdakwah?”
Dengan penuh rasa cinta dan perhatian beliau menjawab, “Aku mengajak kepada Islam dan agar engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah, agar engkau hanya beribadah kepada Allah.”

Aslam lalu bertanya lagi, “Jika aku beriman kepada Allah dan mengucapkan syahadat ini, apa yang akan aku dapatkan?”

“Engkau akan masuk surga, jika engkau mati di atasnya.” Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aslam berkata, “Aku manusia biasa, hitam, buruk rupa dan tidak memiliki harta benda, apakah jika aku mati berjihad bersama mereka, aku akan masuk surga?”

“Ya, engkau akan masuk surga jika engkau mati membawa keyakinan ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meyakinkan.

Aslam segera masuk Islam.

Dalam riwayat lain disebutkan,
Aslam bertanya, “Jika aku beriman dan mati di atas keimanan, apakah aku akan mendapat surga?” Rasulullah menjawab, “Iya”

Pada saat itu juga, ia mengucapkan kalimat syahadat dan masuk Islam. Aslam berkata,
“Aku adalah pekerja untuk pemilik kambing-kambing ini, ia adalah amanah di sisiku, apa yang harus aku lakukan dengannya?”

Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia tentu tidak akan mengizinkannya mengkhianati amanah, hingga walaupun dalam keadaan perang melawan pemilik amanah ini. Beliau berkata kepada budak Habasy itu, “Pukullah wajah-wajahnya, mereka semua akan kembali kepada pemiliknya.”
Budak hitam ini pun mengerjakan yang diperintahkan, ia mengambil segenggam tanah dan melemparkannya kepada wajah kambing-kambing tersebut seraya berkata,
“Kembalilah kalian semua kepada pemilik kalian. Demi Allah, aku tidak lagi menyertaimu.”
Maka kambing-kambing itu pun kembali semuanya seperti ada orang yang menggiringnya hingga masuk ke dalam benteng. Saat kambing-kambing itu sampai kepada pemiliknya, orang Yahudi itu pun mengetahui bawah budak sahayanya telah masuk Islam.

Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong dan menggelorakan semangat jihad para sahabat. Ali bin Abi Thalib berangkat seraya membawa panji untuk memerangi benteng pertahanan Yahudi yang bernama Na’im. Di belakangnya, ada budak sahaya bernama Aslam tadi yang tentunya mengenal seluk-beluk benteng dengan baik ikut serta bersama pasukan kaum muslimin untuk memerangi orang-orang Yahudi. Pertempuran pun terjadi dan budak sahaya pun seketika itu gugur sebagai syahid. Jenazah Aslam dibawa dan diinformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemandanginya sejenak dan bersabda kepada para sahabatnya, “Sungguh Allah telah memuliakan budak ini, Dia telah menggiringnya ke Khaibar. Sungguh, aku melihat di atas kepadanya ada dua bidadari, padahal ia tidak pernah shalat untuk Allah satu kali pun.”[1]

[1] Al Khashaa`ish Al Kubraa, As Suyuthi: 1/425. Al Siirah Al Nabawiyyah, Ibnu Katsir: 3/361 

[Mi`atu Qishshah Min Akhlaq al Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdulkhalik Mujahid]

Sabilul ‘ilmi

Iklan

Ditandai:, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: