Penulis Mushaf Madinah Legendaris Asal Syiria

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du

utsman thaha penulis mushaf madinah (4)

Mushaf Madinah, sepertinya nama ini tidak asing lagi bagi kita.
Ia sering kita lihat di rak-rak atau di pojok-pojok masjid, bahkan di rumah-rumah milik kaum Muslimin, termasuk rumah kita. Hampir setiap kaum Muslimin tidak lepas darinya, untuk dibaca bahkan dihafalkan. Iya, Mushaf Madinah adalah satu diantara jenis Mushaf yang ada di dunia ini, dan paling disukai. Simple, elegan, dan indah itulah alasannya mengapa ia banyak disukai.

Mushaf Madinah, sebagaimana mushaf pada umumnya adalah kumpulan lembaran kertas yang di atasnya ditulis teks Al-Qur’an–mushaf berbeda dengan Al-Qur’an–dengan khat nashi kemudian disatukan dalam bentuk mushaf. Ia ini dinamakan Mushaf Madinah, karena mushaf ini ditulis, dicetak dan didistribusikan di Madinah, sehingga secara resmi ia dikenal dan diberi nama dengan
Mushaf Al-Madinah Al-Munawwarah.

Mushaf Madinah ditulis oleh seorang khattat, Utsman Thaha rahimahullah yang telah puluhan tahun mendalami bidang ini. Dari tangannya tergores berlembar-lembar tulisan Al-Qur’an sehingga bisa dinikmati dan dibaca oleh segenap kaum Muslimin di seluruh dunia. Beliau adalah seorang khattat ternama sekaligus seniman Islami (Islamic Art) dunia, telah hampir lebih dari puluhan kali menulis ulang mushaf dengan tangannya, dan untuk menyelesaikan satu mushaf beliau menghabiskan waktu dua tahun setengah. Sebuah pekerjaan yang semua orang tidak mampu melakukannya, kecuali atas izin Allah.

Ciri khas dari mushaf ini adalah ia ditulis dengan tulisan (khat) rapi, ditambah ornament indah pada bagian-bagian tertentu di setiap lembaran dan sampul, sehingga terlihat jelas nuansa seninya yang sangat kental. Perpaduan yang indah antara kaligrafi dan ornament, berhasil dipadukan oleh Ustman Thaha membuatnya indah dan enak dipandang, Subhanallah.
Selain itu juga mushaf ini ditulis dengan baris, halaman dan lembar yang pas. Dalam setiap halamannya (muka) ada 15 baris, satu lembar berarti dua halaman (muka), dan satu juz berarti ada 20 halaman atau 10 lembar. Pada tiap-tiap halamannya diakhiri (ditutup) dengan ayat tanpa bersambung ke halaman berikutnya, sehingga memudahkan bagi para penghafal Al-Qur’an dalam menentukan target, membagi hafalan dan sebagainya.

utsman thaha penulis mushaf madinah (3)
beberapa variasi mushaf

Ada beragam tipe dan ukuran Mushaf Madinah yang telah dicetak, mulai ukuran besar, tanggung, kecil, hingga ukuran saku. Ada juga mushaf yang dilengkapi dengan terjemah, tulisan Al-Qur’an di kanan dan terjemah di kiri. Bahkan di era digital ini, Mushaf Madinah sudah diformat lebih canggih lagi, tersedia dalam beberapa aplikasi, bisa dibaca di hp, komputer, tab, dsb.

Hingga sekarang Mushaf Madinah sudah tersebar hingga ke berbagai tempat dan negara, termasuk Indonesia, dan banyak dibaca oleh jutaan kaum Muslimin di seluruh dunia. Mushaf Madinah adalah mushaf legendaris sampai hari ini, dan sekarang ia dijadikan mushaf standar di seluruh dunia, terutama oleh halaqah-halaqah Tahfidzul Qur’an. Saya sendiri ketika kecil dahulu lebih suka dengan mushaf ini dibanding dengan mushaf yang ditulis dan diproduksi oleh Indonesia sendiri, alasannya sederhana saja karena tulisannya rapi, indah dan kertasnya bagus. Jadi inget waktu kecil nih. Apalagi sekarang udah punya hobi foto-foto, Mushaf Madinah ini tak luput dari objek foto. Gak lucu ya! 🙂

Kelahiran Utsman Thaha

Utsman yang memiliki nama lengkap dengan Abu Marwan Utsman bin Abduh bin Husain bin Thaha Al-Halaby lahir di Syiria pada tahun 1934 M/1352 H. Beliau adalah anak dari Abduh Husain Thaha seorang dan khatib di sebuah masjid yang berada di Syiria yang  juga ahli dan memiliki spealisasi di bidang khat riq’ah. Dari ayahnya Utsman belajar dan mendalami khat riq’ah secara khusus yang menekuni khat ini. Kecintaan beliau pada dunia khat berawal dari masa kecilnya yang hobi melihat tulisan indah (khat) di buku-buku khat di perpustakaan milik ayahnya. Kemudian segala yang beliau tidak mengerti ditanyakan langsung kepada sang ayah, sehingga bakat menulis khat ini beliau wariskan dari ayahnya dan seterusnya kembangkan hingga dewasa.

utsman thaha penulis mushaf madinah (1)
aktifitas menulis mushaf

Saat belajar dengan ayahnya beliau sudah meniru gaya khat yang ada di buku-buku percetakan sampai beliau mampu meniru khat tersebut sama persis seperti yang ada dibuku tersebut. Utsman memulai sebuah tulisan khat yaitu nadzham dalam ilmu aqidah dan matan nahwu, padahal ketika itu umurnya masih delapan tahun. Khat yang ditulis ini, sebagaimana yang beliau katakan, masih tersimpan rapi di perpustakaan pribadi miliknya. Sang ayah yang melihat bakat anaknya yang sedari kecil ini kagum sehingga Utsman dikirim untuk belajar agama juga mendalami dunia khat ke kota Aleppo (Halaby). Dan di kota ini beliau banyak berkenalan dengan para penulis khat senior.

Masa pendidikan dan hobi menulis khat

Selanjutnya Utsman Thaha menamatkan pendidikan dasar dan menegah di sekolah Asy-Syari’ah Al-Kharawiyyah (Darul Mu’allimin) yang terletak di kota Aleppo (Halaby). Ketika berada di kota Aleppo ini beliau mulai berkenalan dengan penulis khat senior, yaitu Muhammad Ali Maulawy. Darinya mengambil dasar-dasar khat riq’ah, khat farisy dan menulis dengan cat. Dan pada masa itu juga Utsman mengenal banyak penulis khat dan belajar dari mereka beberapa seni dalam khat nasakh dan riq’ah serta sedikit khat farisy,seperti Muhammad Al-Khattib, Husein Husni At-Turky, Abdul Jawwad Al-Kattat, dan terakhir kepada Ibrahim Ar-Rifa’i (seorang kaligraper asal kota Aleppo).

utsman thaha penulis mushaf madinah (2)
khat tsulutsi

utsman thaha penulis mushaf madinah (2)
khat tsulutsi

Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dan menengah beliau pindah ke Damaskus karena tuntutan pekerjaan, yaitu bekerja di bidang pengajaran dan pendidikan. Masa-masa berada di kota Damaskus ini Utsman berkenalan penulis khat senior yang terkenal dengan “Penulis Khat Negeri Syam” bernama Muhammad Badawi Ad Dirani. Darinya beliau mendalami khat farisi dan khat tsulutsi mulai tahun 1960 sampai sang guru meninggal pada 1967 M.

Selama berada di kota Damaskus, selain mengajar dan mendalami penulisan khat Utsman juga melanjutkan studi hingga lulus dan berhasil mendapatkan gelar licence (L.c) di Fakultas Syariah  pada tahun 1964 dan satu tahun lagi di Fakultas Tarbiyah 1965 M. Di kota Damaskus ini juga beliau kembali berkenalan dengan “Penulis Khat Negeri Rafidain (Irak)” Muhammad Hasyim Al Baghdady. Darinya Utsman belajar “seni-seni” dalam khat tsulutsdan nasakh. Untuk selanjutnya ia kemudian belajar melukis dengan berbagai macamnya dari seniman terkenal Sami Burhan dan seniman kreatif Naim Ismail.

Menurut beliau lukisan memiliki hubungan yang erat dengan khat. Lukisan mampu membantu penulis khat untuk melakukan distribusi dan susunan yang indah. Penulis khat yang juga pelukis akan menjadi orang yang lebih faham dan lebih luas dalam pekerjaannya. Namun beliau membatasi pekerjaan diri pada bidang ornament Islami guna menghiasai lukisan-lukisan dan khat-khat yang beliau tulis dengan gambar-gambar Islami yang indah.

Mulai menulis mushaf

Utsman Thaha pertama kali menulis Mushaf pada tahun 1980 untuk Kementerian Wakaf Syria. Kemudian menulis satu mushaf lain dengan riwayat Hafs untuk penerbit Darus Syamiyah. Pada tahun 1988 ia pergi ke Arab Saudi dan disana beliau diangkat sebagai penulis khat di Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Mushaf di Madinah Al-Munawwarah dan sebagai penulis mushaf Kota Nabi itu. Pada tahun yang sama ia uga diangkat sebagai anggota Komite Juri Internasional Perlombaan Khat Arab yang berlangsung di Istanbul setiap tiga tahun sekali.

utsman thaha penulis mushaf madinah (1)

Setelah berada di Madinah Al Munawwarah Utsman mulai menulis mushaf dengan riwayat Warsy dengan supervisi Komite Ilmiah bagi Evaluasi Karangan yang terdiri dari para ulama qira’at senior dari berbagai negara Islam. Lalu melanjutkan dengan menulis Mushaf Hafs (yang halamannya tidak berakhir dengan sebuah ayat) sebagaimana Mushaf Mesir (As-Syamarli). Lalu terlintas dalam benak beliau untuk menulis Mushaf Hafs yang menarik perhatiannya dari sisi mutu khat dan bagusnya urutan. Halaman-halamannya dimulai dengan sebuah ayat dan berakhir dengan sebuah ayat. Atas pertolongan Allah beliau telah menyelesaikan penulisannya dan menjadi sebuah tanda dalam keindahan; khat, harakat dan kesesuaian agar menjadi ganti dari mushaf lama yang dicetak di Kompleks Percetakan Mushaf secara terus menerus yang telah beliau tulis sejak tigapuluh lima tahun yang lalu.

Beliau juga menulis mushaf dengan riwayat Qalun dimana telah dievaluasi dan siap untuk dicetak. Sebelumnya Utsman telah menulis sebuah mushaf dengan riwayat Ad-Dury dan telah dicetak serta didistribusikan atas pertolongan Allah. Kemudian beliau ikuti dengan penulisan mushaf-mushaf hingga jumlahnya lebih dari sepuluh mushaf hingga sekarang. Satu mushaf yang beliau tulis menghabiskan waktu sekitar dua setengah tahun dengan evaluasi (tashih) terus menerus yang menyertai penulisan.

Beliau juga bertutur bahwa ia tidak menulis Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Selama menulis beliau tidak banyak bergaul dengan orang-orang agar pikiran terjaga dan selalu jernih sehingga tidak terjatuh pada kesalahan. Menurut beliau kesalahan dalam Al-Qur’an tidak dapat diterima oleh alasan apapun.

Dalam sebuah wawancara, beliau ditanya bagaimana perasaan beliau ketika menulis mushaf, “… Adapun perasaan saya ketika menulis, saya melihat diri saya berada dalam dunia ayat-ayat yang mulia yang mana saya mengutip dari ayat-ayat itu sebuah ilmu dan meningkatkan spiritual saya. Sebuah dunia yang bukan dunia manusia yang disibukkan oleh kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat yang memberi kabar gembira dan ayat-ayat yang memberi peringatan. Kisah-kisah yang menarik dan indah seperti kisah-kisah para nabi yang mulia dan kisah kaum-kaum masa lalu.” ungkapnya.

utsman thaha penulis mushaf madinah (1)
Syaikh Dr. Utsman Husein Thaha

Beliau melanjutkan, “Saya tidak terasa oleh perjalanan waktu dan saya tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekeliling saya. Ayat-ayat Al-Qur’an menguasai saya. Saya tenggelam dalam alam cahaya dan nurani; tak tertipu oleh dunia dan saya berbekal untuk akhirat saya. Saya berbuat amal-amal shalih agar dapat mencapai Surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa (dengan rahmat Allah dan ampunan-Nya). Dan saya menjauhi setiap apa yang membawa saya pada neraka (naudzu billahi). Di dalamnya ada perasaan takut dan harapan. Saya senantiasa berdoa kepada Allah agar menjadikan pekerjaan saya ikhlas karena Allah semata.”

Setiap mushaf yang beliau tulis semuanya standar Rasam Utsmani (standar bacaan Utsmani) sebagaiman yang disepakati oleh jumhur ulama’ dan kaum Muslimin. “Rasam Utsmani adalah bentuk tulisan yang digunakan menulis Al-Qur’an zaman Amirul Mukminin Usman bin Affan. Kaum muslimin bersepakat (ijmak) untuk hanya menggunakan rasam ini sebagai bentuk akhir. Dan tidak dibolehkan penulisan mushaf-mushaf menyalahi itu.” Sambungnya.

Keunikan Mushaf Madinah dibanding mushaf lainnya

Banyak jenis mushaf yang sudah ditulis di dunia ini, masing-masing memiliki karakter dan kekhasan berbeda. Di Indonesia saja banyak macam dan vareasinya. Demikian pula dengan Mushaf Utmani ini, namun ia memiliki sesuatu yang lebih dibanding mushaf yang ada.

Sebagaimana yang ditulis di atas bahwa diantara ciri khas Mushaf Madinah adalah indah dan simpel, dan pada tiap halamannya ada 15 baris yang diawali dengan ayat dan ditutup dengan ayat pula. Beliau bercerita, “Saya telah mendapati sebuah mushaf lama yang ayat-ayatnya dibagi dimana halamannya dimulai dengan sebuah ayat dan begitu pula berakhir dengan sebuah ayat. Mushaf ini berasal dari zaman Turki Usmani (Ottoman) yang ditulis dengan tulisan Imlak dan saya menguasai contoh ini dan saya telah menulisnya dengan tulisan Usmani sesuai urut-urutan mushaf Turki ini. Atas pertolongan Allah, saya adalah orang pertama yang menulis mushaf seperti bentuk ini; yaitu salinan yang telah dicetak di Kompleks Percetakan Mushaf semenjak diresmikannya. Mereka telah mendapati di dalamnya pengaturan yang baik serta susunan yang indah dan setiap juz terdiri dari duapuluh halaman dari awal Al Quran hingga akhir. Orang-orang yang menghafal Al Quran menemukan sebuah metode yang dapat membantu mereka untuk menghafal dalam hal itu, karena itu mereka menamakannya dengan “Mushaful Huffaz” (mushaf para penghafal Al-Qur’an).”

Selain yang disebutkan di atas bahwa Mushaf Madinah juga ditulis dengan longgar dan tidak rapat, dan harakat-harakat berada di atas masing-masing huruf sehingga tidak terlihat campur dengan huruf yang lain yang membuat tulisan khat menyalahi aturan (kaidah).

utsman thaha penulis mushaf madinah (3)
Mushaf Madinah: Khat nashi dan ornament

Ketika beliau ditanya tidak mungkinkah komputer menggantikan penulisan dengan tangan? Beliau menjawab, “Komputer adalah sebuah alat yang menakjubkan dan sebuah penemuan raksasa yang diperlukan oleh setiap insan terpelajar. Komputer pada hakekatnya adalah mukjizat abad keduapuluh. Sebuah alat bening bagai cermin yang dapat memantulkan apa yang diletakkan di dalamnya. Namun kita tidak dapat mengatakan bahwa komputer dapat menggantikan penulis khat. Karena penulis khat adalah orang yang berkreasi. Sebagaimana komputer mengandalkan pada penyusunan huruf-huruf, sedangkan penyusunan huruf-huruf itu mengandalkan kaligrafi horizontal. Dan kesemua ini mengurangi keindahan khat. Cara terbaik bagi penulisan Al-Qur’an adalah dengan tulisan tangan. Karena ia kuat, teratur, memiliki daya tarik, bagus, keindahan yang selalu dibutuhkan.”

Syaikh Ustaman Thaha Rahimahullah telah menggoreskan karya terbaik yang pernah beliau miliki, yaitu dengan menghabiskan waktunya untuk menulis mushaf Al-Qur’an, dan melegendaris hingga sekarang. Karya beliau ini banyak membantu jutaan kaum Muslimin di seluruh dunia. Semoga Allah meridhai amal beliau dan dibalas dengan sebaik-baik balasan. Amin!!

Zaky

Iklan

Ditandai:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: